Kamis, 13 Juni 2013

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KONSEP BANGUN RUANG DENGAN MEDIA REALIA BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI PREMULUNG NO. 94 KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh: Tri Murti Handayani, S. Pd. M. Pd. NIP. 19620120 198201 2 010 Kepala SD Negeri Premulung No. 94 Surakarta ABSTRACT The objective of the research is to improve the students’ achievement in mathematics for clas V students of SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012 in the concept of geometry through real media. The research is a Classroom Action Research. The research was done in class V of 2nd semester. The subject of the research were students of class V of 2nd semester at SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012 consisted of 48 students. The research was done within three months at 2nd semester, started on February up to April 2012. The object of the research was mathematics learning in the concept of geometry. Based on the analysis, the research concludes that the application of real media was effective in improving students’ achievement in mathematics concept of geometry for students of class V of 2nd semester at SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012. Keywords: Learning achievement, real media. LATAR BELAKANG Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar. Sampai saat ini, pelajaran matematika masih menjadi masalah bagi siswa. Hal ini dapat dilihat dari keluhan siswa yang mengatakan bahwa matematika itu sulit, dan nilai matematika lebih rendah daripada mata pelajaran yang lain. Kondisi ini terlihat pada siswa kelas V di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, di mana dari 48 anak yang ada, baru ada 23 anak atau 47.92% yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM sebesar 64. Sisanya, sebanyak 25 anak atau 51.08% belum mencapai ketuntasan belajar pada konsep bangun ruang. Dengan demikian siswa yang harus mengikuti remedial mencapai 25 anak. Hal ini menunjukkan fakta bahwa pelajaran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Data tingkat ketuntasan belajar siswa kelas V pada semester II dapat disajikan sebagai berikut: Tabel 1 Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 No. Ketuntasan Jumlah % 1. Tuntas 23 47.92% 2. Belum Tuntas 25 51.08% Jumlah 48 100% Mengacu kenyataan di atas maka untuk mengatasi kesulitan belajar matematika pada konsep bangun ruang yang diajarkan di kelas V, guru perlu menggunakan program pembelajaran yang tepat. Selama ini kegiatan pembelajaran dilakukan hanya dengan bantuan berupa media gambar, yaitu guru menggambar bangun ruang di papan tulis. Bertitik tolak dari kelemahan pengajaran klasikal di mana siswa kurang mendapat pelayanan sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya, maka perlu adanya pengajaran dengan menggunakan media sebagai alat bantu dalam pembelajaran agar anak dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Dalam pengajaran menggunakan media model, siswa memperoleh pengalaman pembelajaran yaitu dapat meraba dan menyentuh secara langsung sehingga pemahaman lebih meningkat. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Konsep Bangun Ruang dengan Media Realia Bagi Siswa Kelas V SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012”. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012 pada konsep bangun ruang melalui penggunaan media realia. MANFAAT PENELITIAN Manfaat Bagi Siswa Hasil penelitian ini dapat bermanfaat Bagi siswa dapat digunakan sebagai motivasi belajar supaya tidak mengalami kesulitan belajar matematika. Dapat memberikan manfaat berupa pengalaman pembelajaran yang lebih konkrit setelah mengikuti tindakan pembelajaran. Manfaat Bagi Guru Hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru untuk menemukan solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan dalam pembelajaran khususnya matematika. Memberikan manfaat berupa penambahan wawasan dan pengalaman menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. KAJIAN TEORI Tinjauan tentang Prestasi Belajar Pengertian belajar menurut Slameto (1995) dikatakan bahwa “belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan” (hal. 2) Pengertian lain tentang belajar dikemukakan oleh Dimyati Mahmud (1990) yang menyatakan bahwa belajar adalah “perubahan dari dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman” (h. 14). Dengan demikian belajar yang paling efektif adalah belajar melalui pengalaman. Dari definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan agar diperoleh perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan belajar adalah suatu usaha dengan melakukan latihan dalam proses belajar agar memperoleh pengalaman atau perubahan tingkah laku di dalam kepribadian yang bersifat menetap dalam jangka waktu yang lama. Prestasi belajar Prestasi belajar terdiri dari kata “prestasi” dan “belajar”. Prestasi menurut pendapat Poerwadarminta (1986) adalah “hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kecakapan” (h. 768). Sedangkan belajar menurut Kamus PPPB (1992) pada hakekatnya adalah “berusaha agar mendapatkan suatu kepandaian” (h. 664). Menurut Gagne (dalam Dahar, 1996), belajar adalah “sesuatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman” (h. 11). Belajar adalah suatu perubahan tingkat laku sebagai hasil dari pengalaman, belajar bukanlah menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas, melainkan mengaitkan konsep-konsep yang baru pada konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Menurut Djamarah (1997) belajar adalah “proses perubahan tingkah laku berat pengalaman dan latihan” (h. 11). Sejalan dengan pendapat di atas, Slameto (1995) mengartikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang “untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (h. 2). Menurut Sumadi Suryabrata (1981) belajar adalah “aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar aktual maupun potensial” (h. 2). Perubahan itu pada hakikatnya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan perubahan itu terjadi karena usaha. Selanjutnya menurut Witherington dan Buchori (1988), belajar adalah “suatu perubahan pada kepribadian yang ternyata pada adanya pola sambutan baru yang berupa suatu pengertian” (h. 56). Pada intinya prestasi belajar adalah hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kegiatan (kegiatan belajar) untuk menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan atau kecakapan. Prestasi belajar berarti pula hasil yang dicapai individu melalui usaha yang dialami secara langsung dan merupakan aktivitas yang bertujuan memperoleh ilmu pengetahuan, ketrampilan maupun kecakapan dalam situasi tertentu. Prestasi belajar juga berarti hasil yang dicapai oleh seseorang setalah melaksanakan serangkaian kegiatan belajar. Prestasi belajar menurut Winarno Surachmad (1982) adalah “menilai prestasi belajar para siswa dalam bentuk ulangan untuk memperoleh angka-angka sebagai acuan untuk menentukan berhasil tidaknya seorang siswa dalam belajar” (32). Sedangkan menurut Masrun dan Sri Mulyani Martinah (1983: 12) prestasi belajar adalah “penilaian atau pengukuran untuk mengetahui apakah bahan atau materi yang disajikan oleh guru telah diserap dengan baik atau sebaliknya sehingga dapat diketahui sejauh mana para siswa dapat menangkap dan mengerti materi yang sedang dipelajarinya” (h. 12). Kemudian menurut Surya (1983) bahwa prestasi belajar merupakan “seluruh kecakapan yang dicapai melalui proses belajar di sekolah yang dinyatakan dengan nilai-nilai prestasi belajar berdasarkan hasil test prestasi belajar” (h. 115). Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi siswa adalah perubahan tingkah laku siswa baik pengetahuan, sikap maupun ketrampilan hasil dari aktivitas belajar yang ditetapkan dalam bentuk angka atau nilai. Atau dengan ungkapan lain bahwa prestasi belajar adalah mengukur sejauh mana proses kegiatan belajar mengajar dapat diserap oleh para siswa. Prestasi belajar siswa secara nyata dapat dilihat dalam bentuk kuantitatif yaitu angka. Prestasi belajar itu dalam periode tertentu diperoleh dengan mendapatkan rapor. Prestasi belajar siswa dalam kenyataannya antara siswa yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Siswa yang belajar baik, tepat dalam menggunakan waktu belajar cenderung mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Sebaliknya, siswa yang kurang tepat cara belajarnya cenderung mendapatkan prestasi belajar yang rendah. Keberhasilan belajar seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Masrun (1992) dapat diklasifikasikan sebagai “faktor eksternal dan faktor internal.” (h. 37) Faktor-faktor eksternal adalah yang berasal dari luar diri si pelajar dan ini masih dapat digolongkan menjadi dua golongan dengan catatan bahwa overlapping tetap ada, yaitu: (a) faktor-faktor sosial; dan b) faktor-faktor non sosial. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu: (a) faktor fisiologis; dan (b) faktor psikologis. Tinjauan tentang Pembelajaran Matematika Pengertian matematika Menurut Sunardi (1997) dikatakan bahwa matematika adalah “ilmu yang mempelajari seluk beluk bilangan beserta hubungannya.” (h. 1) Sependapat dengan Sunardi, Herman Hudoyo (1998) menjelaskan bahwa matematika “merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas kalau dibandingkan dengan disiplin ilmu lain. Maka pembelajaran matematika seyogyanya tidak disamakan begitu saja dengan ilmu yang lain.” (h. 1) Karena peserta didik yang belajar matematika itupun berbeda-beda pula kemampuannya, oleh karena itu kegiatan belajar mengajar haruslah diatur sekaligus memperhatikan kemampuan yang belajar. Menurut Lerner yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (2003): mengemukakan bahwa “matematika disamping bahwa simbol juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas”. (h.25). Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari sifat khas dibandingkan ilmu yang lain yang mempelajari tentang seluk beluk bilangan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan matematika adalah disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas dibanding dengan ilmu yang lain dalam mengekspresikan hubungan kuantitatif yang memudahkan manusia berpikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Tinjauan tentang Media Realia Secara umum kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar menurut Hamalik (1992) adalah untuk “memperjelas penyajian pesan dan mengatasi verbalisme, keterbatasan ruang waktu dan daya indera.” Dalam penjelasannya, Hamalik mencontohkan: 1) objek yang terlalu besar dapat diganti dengan model, gambar, realitas. 2) objek yang kecil dibantu dengan Proyektor Mikro, Film atau gambar. 3) gerak yang terlalu cepat atau lambat dapat dibantu dengan Time Lapse atau High Speed Photograft. 4) kejadian masa lalu dapat ditampilkan lewat film, rekaman, video. 5) objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model, diagram atau gambar. 6) konsep yang terlalu luas dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar, film. Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer dalam Zulkardi, 2010: 7). Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000). Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi. Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Treffers (dalam Zulkardi, 2010: 6), yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan, dan penvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real ke masalah matematik. Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematik, penggunaan model-model yang berbeda, dan penggeneralisasian. Kedua jenis matematisasi ini mendapat perhatian seimbang, karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai sama (Van den Heuvel-Panhuizen, 2000). Dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (“dunia nyata”), sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (dalam Zulkardi, 2010: 5) sebagai matematisasi konseptual. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. Kemudian, siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization). Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Bonotto, 2000). Dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana “dunia nyata” tidak hanya sebagai sumber matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika. Berdasarkan penjelasan di atas, maka proses dalam pembelajaran matematika realita dapat disajikan ke dalam bagan berikut. Gambar 1 Konsep Matematisasi De Lange Sumber: Zulkardi, 2010: 5 KERANGKA PEMIKIRAN Metode dan strategi pendekatan yang digunakan peneliti untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bangun ruang melalui penggunaan media konkrit. Di dalam pembelajaran menggunakan media kongkrit ini guru menyampaikan materi pembelajaran disertai dengan peragaan berupa alat bantu pelajaran. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan seluruh siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kongkrit dalam pembelajaran matematika sehingga pemahaman semakin meningkat. Adapun alur kerangka pemikiran yang ditunjukkan untuk mengarahkan jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka kerangka pikir diatas dilukiskan dalam sebuah gambar skema agar peneliti mempunyai gambaran yang jelas dalam melakukan penelitian. Adapun skema itu adalah sebagai berikut: Gambar 2 Kerangka Pemikiran HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan landasan teori, kerangka pemikiran maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan kelas sebagai berikut: “penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012”. METODE PENELITIAN Setting Penelitian Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 pada kelas V semester II. Alasan pemilihan adalah karena peneliti mengajar di sekolah tersebut sehingga memudahkan dalam pelaksanaan tindakan. Waktu Penelitian Penelitian direncanakan dalam waktu 3 (tiga) bulan yaitu dari persiapan penelitian bulan Pebruari 2012 sampai dengan penyusunan laporan penelitian bulan April 2012. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 48 orang siswa. Penentuan subjek dilandasi adanya alasan bahwa siswa kelas V semester II di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 mempunyai tingkat ketuntasan belajar yang rendah dalam pembelajaran matematika. Prosedur Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian, maka jenis penelitian yang paling tepat adalah maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas menurut pendapat Elliott (2001: 1) disebutkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut: “the process through which teachers collaborate in evaluating their practice jointly; raise awareness of their personal theory; articulate a shared conception of values; try out new strategies to render the values expressed in their practice more consistent with the educational values they espouse; record their work in a form which is readily available to and understandable by other teachers; and thus develop a shared theory of teaching by researching practice” (Elliott, 2001: 1). Berdasarkan pendapat Elliott, dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan proses di mana guru bekerjasama dalam mengevaluasi pelaksanaan tugas mengajar yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses siklus kegiatan dalam penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2006: 65) dapat digambarkan ke dalam bagan skematis sebagai berikut. Gambar 3. Model Penelitian Tindakan dari Kemmis dan Taggart Teknik Pengumpulan Data Observasi Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung (Sutopo, 2002 : 59) baik secara formal maupun informal untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media realia di kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012, mengamati secara langsung tehadap peristiwa / kegiatan pembelajaran matematika konsep bangun ruang yang meliputi: a) kemampuan guru dalam menjelaskan kompetensi dasar dan indikator dalam pembelajaran, b) kemampuan mengembangkan pendekatan, metode dan media dalam pembelajaran matematika konsep bangun ruang; c) Penguasaan Kelas; dan d) kemampuan menggunakan alat penilaian. Tes Tes yang digunakan dalam pengumpulan data berupa tes hasil belajar matematika. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus tindakan untuk mengumpulkan data mengenai tingkat kompetensi siswa dalam penguasaan konsep bangun ruang. Validitas Data Data yang berhasil digali, dikumpulkan dan dicatat dalam kegiatan penelitian, diusahakan kemantapan dan kebenarannya. Agar data dapat dijamin kenbenarannya, didalam penelitian ini digunakan triangulasi data atau disebut sumber data (Sutopo, 2002 : 79). Cara ini mengarah pada penggunaan beragam sumber data yang tersedia. Artinya data yang sama atau sejenis, akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber yang satu, bisa lebih teruji kebenarannya bilamana dibandingkan dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Teknik Analisis Data Prosedur analisisnya menggunakan model alur dari Kemmis dan Taggart yang intinya mengidentifikasi perkembangan dan perkembangan dan perubahan subjek setelah subjek sampel diberi perlakuan khusus atau dikondisikan pada situasi tertentu dengan pembelajaran tindakan dalam kurun waktu tertentu dan berulang-ulang sampai program dinyatakan berhasil. Indikator Kinerja Penelitian Indikator untuk mengukur keberhasilan tindakan pembelajaran guna peningkatan prestasi belajar matematika adalah sebagai berikut: Siswa dianggap menguasai konsep apabila sudah memperoleh nilai > KKM untuk mata pelajaran matematika, atau nilai > 64. Pembelajaran dianggap berhasil apabilai nilai rata-rata kelas > KKM atau rata-rata kelas > 64. Pembelajaran dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan nilai > 64 sudah mencapai > 80% dari seluruh jumlah siswa yang ada. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskripsi Kondisi Awal Hasil tes ulangan harian yang diperoleh dari 48 orang siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Surakarta pada semester II tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan bahwa dari 48 siswa ternyata baru 23 orang siswa atau 47,92% yang sudah memperoleh nilai di atas KKM sebesar 64. Sisanya sebanyak 25 orang siswa atau 52.08% belum mencapai ketuntasan belajar. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah sebesar 45 dan nilai tertinggi 80. Nilai rata-rata kelas diperoleh sebesar 61,98. Dengan demikian, secara klasikal siswa kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 belum mencapai batas tuntas minimal yang dipersyaratkan dalam pembelajaran matematika. Data perolehan nilai hasil ulangan harian dapat disajikan pada tabel di bawah ini: Tabel 2 Nilai Hasil Belajar Kondisi Awal No. Ketuntasan Jumlah % 1. Tuntas 23 47,92 % 2. Belum Tuntas 25 52,08 % Jumlah 48 100% Nilai Rata-rata 61.98 Nilai Terendah 45 Nilai Tertinggi 80 Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal tindakan dapat digambarkan ke dalam diagram batang sebagai berikut: Gambar 4 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Kondisi Awal Deskripsi Tindakan Siklus I Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan setelah akhir pembelajaran tindakan Siklus I dapat diketahui bahwa pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai terendah yang diperoleh siswa mengalami peningkatan dari 45 pada kondisi awal menjadi 50. Nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 80 pada kondisi awal menjadi sebesar 85 pada akhir tindakan Siklus I. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan dari 61.98 pada kondisi awal meningkat menjadi sebesar 66.88 pada akhir tindakan Siklus I. Atas dasar hal ini maka secara klasikal nilai rata-rata hasil belajar siswa pada tindakan Siklus I sudah melampaui batas tuntas minimal yang ditetapkan, yaitu 66.98 > 64. Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas minimal dengan nilai 64 adalah sebanyak 31 orang siswa atau 64.58%. Siswa yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 17 orang siswa atau 35.42%. Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat disajikan ke dalam tabel berikut. Tabel 3 Nilai Hasil Belajar Tindakan Siklus I No. Ketuntasan Jumlah % 1. Tuntas 31 64,58 % 2. Belum Tuntas 17 35,48 % Jumlah 48 100% Nilai Rata-rata 66.88 Nilai Terendah 50 Nilai Tertinggi 85 Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat digambarkan ke dalam diagram batang sebagai berikut: Gambar 5 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Tindakan Siklus I Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus I dapat diperoleh refleksi hasil tindakan sebagai berikut: Pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dari 61.98 pada kondisi awal menjadi 66.88 pada akhir tindakan Siklus I. Nilai rata-rata kelas sudah melampaui KKM yang ditetapkan, yaitu 66.88 > 64, meskipun demikian pembelajaran belum dapat dikatakan berhasil. Hal ini diindikasikan dengan belum tercapainya ketuntasan kelas di mana tingkat ketuntasan belajar siswa < 80% atau 64.52 < 80%. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus I adalah: (a) belum berubahnya pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran berpusat pada siswa; (b) dampak produk berupa penguasaan kompetensi penuh secara klasikal belum tercapai, yaitu mencapai tingkat ketuntasan kelas sebesar 80%. Deskripsi Tindakan Siklus II Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan pembelajaran pada Siklus I, terutama yang menyangkut beberapa hal yang direkomendasikan pada Siklus I, selanjutnya disusun rencana tindakan pembelajaran Siklus II. Perencanaan ini merupakan upaya untuk meningkatkan dampak produk dari tindakan pembelajaran yang lebih baik. Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir tindakan Siklus II, dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil tindakan siklus sebelumnya. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan, yaitu nilai terendah mengalami peningkatan dari 50 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 60 pada akhir tindakan Siklus II. Nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 85 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 90 pada akhir tindakan Siklus II. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 66.88 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 72.29 pada akhir tindakan Siklus II. Mengingat bahwa nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa > KKM atau 72.29 > 64, maka secara klasikal siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta sudah mencapai ketuntasan belajar dalam pembelajaran matematika konsep bangun ruang. Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas minimal dengan nilai 64 adalah sebanyak 44 orang siswa atau 91,67%, sedangkan yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 4 orang siswa atau 8,33%. Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut: Tabel 4 Nilai Hasil Belajar Tindakan Siklus II No. Ketuntasan Jumlah % 1. Tuntas 44 91,67 % 2. Belum Tuntas 4 8,33 % Jumlah 48 100% Nilai Rata-rata 72.29 Nilai Terendah 60 Nilai Tertinggi 90 Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan pembelajaran Siklus II dapat digambarkan ke dalam diagram sebagai berikut: Gambar 6 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Tindakan Siklus II Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus II dapat diperoleh refleksi hasil tindakan sebagai berikut: Pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dibandingkan dengan tindakan siklus sebelumnya, yaitu dari 66.88 pada akhir tindakan Siklus I meningkat menjadi 72.29 pada akhir tindakan Siklus II. Pembelajaran matematika dengan media realia dianggap berhasil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Hal ini diindikasikan dengan tercapainya ketuntasan kelas secara klasikal, yaitu dengan tingkat ketuntasan sebesar 91.67%. Adanya siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar, yaitu sebanyak 4 orang atau 8.33% diberikan perlakuan khusus berupa pembelajaran remedial sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan belajar dengan nilai > 64. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus I sudah tercapai pada tindakan Siklus II. Hal tersebut meliputi: (a) sudah berubahnya pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran berpusat pada siswa; (b) dampak produk berupa penguasaan kompetensi penuh secara klasikal sudah tercapai, yaitu mencapai tingkat ketuntasan kelas > 80% atau 91.67% > 80%. Pembahasan Hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa ” penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Pada tindakan Siklus I, hasil yang diperoleh belum optimal. Untuk itu guru melakukan perbaikan dengan mengubah skenario pembelajaran pada tindakan Siklus II dengan model diskusi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Tindakan perbaikan dengan mengubah skenario pembelajaran cukup berhasil. Hal ini diindikasikan dengan tercapainya indikator kinerja penelitian berupa nilai rata-rata kelas > KKM dan tingkat ketuntasan belajar siswa > 80%. Ditinjau dari nilai hasil belajar yang diperoleh siswa, nilai terendah, tertinggi, maupun nilai rata-rata yang diperoleh siswa dalam pembelajaran matematika mengalami peningkatan pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai terendah hasil belajar matematika yang diperolah siswa pada kondisi awal adalah sebesar 45, nilai tertinggi 80, dan nilai rata-rata sebesar 61.98. Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I, yaitu dengan nilai terendah sebesar 50, nilai tertinggi 85, dan nilai rata-rata sebesar 66.88. Pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II, nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan tindakan Siklus I, yaitu dengan nilai terendah sebesar 60, nilai tertinggi 90, dan nilai rata-rata sebesar 72.29. Tabel 5 Perkembangan Nilai Hasil Belajar Siswa No. Nilai Awal Siklus I Siklus II 1. Rata-rata 45 50 60 2. Nilai Terendah 80 85 90 3. Nilai Tertinggi 61.98 66.88 72.29 Peningkatan nilai hasil belajar siswa dari kondisi awal hinga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas selanjutnya dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut: Gambar 7 Diagram Peningkatan Nilai Hasil Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingg Tindakan Siklus II Penggunaan media realia dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Zulkardi (2010: 5) yang mengatakan bahwa dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (“dunia nyata”), sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (dalam Zulkardi, 2010: 5) sebagai matematisasi konseptual. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. Kemudian, siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matema-tika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization). Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Bonotto, 2000). Dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana “dunia nyata” tidak hanya sebagai sumber matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika. PENUTUP Simpulan Setelah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seperti yang tertuang pada bab IV, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, maka ada beberapa hal yang perlu disarankan, antara lain sebagai berikut: Bagi Guru Kelas Suatu metode pembelajaran belum tentu cocok diterapkan untuk semua materi pelajaran. Untuk itu perlu adanya pemilihan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pelajaran atau pokok bahasan yang diajarkan. Bagi Siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penentu keberhasilan dalam belajar adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran. Untuk itu disarankan kepada siswa agar selalu terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Bonotto, Cinzia. 2000. Mathematics in and out of school : is it possible connect these contexts ? Exemplification from an activity in primary schools. http://www.nku.edu/~sheffield/ bonottopbyd.htm diakses pada 10 Juli 2011. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1994) Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Dimyati Mahmud (1990) Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Kartikawati, Etty. (1997) Hakekat Bimbingan di SD. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UT. Hasan Rachjadi (1997) Dasar-dasar Pendidikan. Bandung: P3G. Herman Hudoyo. (1998) Belajar Mengajar Matematika. Bandung: CV. Angkasa. Marika Subrata dan Munzayanah (1992) Remedial Teaching. Surakarta: UNS. Moh. Suryo dan Moh. Amien (1989) Pengejaran Remedial. Jakarta: Rineka Cipta. Mulyono Abdurrahman (1996) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. --------. (1999). Pendidikan Bagi Anak berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. --------. (2003) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Ngalim Purwanto (1990) Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Program Akta Mengajar V-B. (1985) Komponen Dasar Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UT. Slameto. 2005. Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Krida. Jakarta: Bumi Aksara. Sunardi (1997) Mengenal Siswa Berkesulitan Belajar. Surakarta: UNS. --------. (2000) Ortopedagogik Umum II Anak Berkesulitan Belajar. Surakarta: UNS. Van den Heuvel-Panhuizen. 2000. Realistic Mathematics Education Work in Progress. http://www.fi.uu.nl/en/indexpulicaties.html. diakses pada 10 Juli 2011 Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Zulkardi. 2010. “How to Design Mathematics Lessons based on the Realistic Approach?” http://www.reocities.com/ratuilma/rme.html diakses pada 10 Juli 2011.

PTK MATEMATIKA SD TAHUN 2013 

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KONSEP BANGUN RUANG DENGAN MEDIA REALIA BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI PREMULUNG NO. 94 KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA  TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Oleh:
Tri Murti Handayani, S. Pd. M. Pd.
NIP. 19620120 198201 2 010
Kepala SD Negeri Premulung No. 94 Surakarta
ABSTRACT
The objective of the research is to improve the students’ achievement in mathematics for clas V students of SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012 in the concept of geometry through real media.
The research is a Classroom Action Research. The research was done in class V of 2nd semester. The subject of the research were students of class V of 2nd semester at SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012 consisted of 48 students. The research was done within three months at 2nd semester, started on February up to April 2012. The object of the research was mathematics learning in the concept of geometry.
Based on the analysis, the research concludes that the application of real media was effective in improving students’ achievement in mathematics concept of geometry for students of class V of 2nd semester at SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta academic year 2011/2012. 
Keywords: Learning achievement, real media.
LATAR BELAKANG
Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar. Sampai saat ini, pelajaran matematika masih menjadi masalah bagi siswa. Hal ini dapat dilihat dari keluhan siswa yang mengatakan bahwa matematika itu sulit, dan nilai matematika lebih rendah daripada mata pelajaran yang lain.  
Kondisi ini terlihat pada siswa kelas V di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, di mana dari 48 anak yang ada, baru ada 23 anak atau 47.92% yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM sebesar 64. Sisanya, sebanyak 25 anak atau 51.08% belum mencapai ketuntasan belajar pada konsep bangun ruang. Dengan demikian siswa yang harus mengikuti remedial mencapai 25 anak. Hal ini menunjukkan fakta bahwa pelajaran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Data tingkat ketuntasan belajar siswa kelas V pada semester II dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 1
Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012
No.
Ketuntasan
Jumlah
%
1.
Tuntas
23
47.92%
2.
Belum Tuntas
25
51.08%
Jumlah
48
100%


Mengacu kenyataan di atas maka untuk mengatasi kesulitan belajar matematika pada konsep bangun ruang yang diajarkan di kelas V, guru perlu menggunakan program pembelajaran yang tepat. Selama ini kegiatan pembelajaran dilakukan hanya dengan bantuan berupa media gambar, yaitu guru menggambar bangun ruang di papan tulis.
Bertitik tolak dari kelemahan pengajaran klasikal di mana siswa kurang mendapat pelayanan sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya, maka perlu adanya pengajaran dengan menggunakan media sebagai alat bantu dalam pembelajaran agar anak dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Dalam pengajaran menggunakan media model, siswa memperoleh pengalaman pembelajaran yaitu dapat meraba dan menyentuh secara langsung sehingga pemahaman lebih meningkat.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Konsep Bangun Ruang dengan Media Realia Bagi Siswa Kelas V SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012”.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012  pada konsep bangun ruang melalui penggunaan media realia.
MANFAAT PENELITIAN
  1. Manfaat Bagi Siswa
  1. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat Bagi siswa dapat digunakan sebagai motivasi belajar supaya tidak mengalami kesulitan belajar matematika.
  2. Dapat memberikan manfaat berupa pengalaman pembelajaran yang lebih konkrit setelah mengikuti tindakan pembelajaran.
  1. Manfaat Bagi Guru
  1. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru untuk menemukan solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan dalam pembelajaran khususnya matematika.
  2. Memberikan manfaat berupa penambahan wawasan dan pengalaman menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.
KAJIAN TEORI
  1. Tinjauan tentang Prestasi Belajar
Pengertian belajar menurut Slameto (1995) dikatakan bahwa “belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan” (hal. 2) Pengertian lain tentang belajar dikemukakan oleh Dimyati Mahmud (1990) yang menyatakan bahwa belajar adalah “perubahan dari dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman” (h. 14). Dengan demikian belajar yang paling efektif adalah belajar melalui pengalaman.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan agar diperoleh perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan belajar adalah suatu usaha dengan melakukan latihan dalam proses belajar agar memperoleh pengalaman atau perubahan tingkah laku di dalam kepribadian yang bersifat menetap dalam jangka waktu yang lama.
Prestasi belajar Prestasi belajar terdiri dari kata “prestasi” dan “belajar”. Prestasi menurut pendapat Poerwadarminta (1986) adalah “hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kecakapan” (h. 768). Sedangkan belajar menurut Kamus PPPB (1992) pada hakekatnya adalah “berusaha agar mendapatkan suatu kepandaian” (h. 664).
Menurut Gagne (dalam Dahar, 1996), belajar adalah “sesuatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman” (h. 11). Belajar adalah suatu perubahan tingkat laku sebagai hasil dari pengalaman, belajar bukanlah menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas, melainkan mengaitkan konsep-konsep yang baru pada konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Menurut Djamarah (1997) belajar adalah “proses perubahan tingkah laku berat pengalaman dan latihan” (h. 11). Sejalan dengan pendapat di atas, Slameto (1995) mengartikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang “untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (h. 2). Menurut Sumadi Suryabrata (1981) belajar adalah “aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar aktual maupun potensial” (h. 2). Perubahan itu pada hakikatnya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan perubahan itu terjadi karena usaha. Selanjutnya menurut Witherington dan Buchori (1988), belajar adalah “suatu perubahan pada kepribadian yang ternyata pada adanya pola sambutan baru yang berupa suatu pengertian” (h. 56).
Pada intinya prestasi belajar adalah hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kegiatan (kegiatan belajar) untuk menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan atau kecakapan. Prestasi belajar berarti pula hasil yang dicapai individu melalui usaha yang dialami secara langsung dan merupakan aktivitas yang bertujuan memperoleh ilmu pengetahuan, ketrampilan maupun kecakapan dalam situasi tertentu. Prestasi belajar juga berarti hasil yang dicapai oleh seseorang setalah melaksanakan serangkaian kegiatan belajar.
Prestasi belajar menurut Winarno Surachmad (1982) adalah “menilai prestasi belajar para siswa dalam bentuk ulangan untuk memperoleh angka-angka sebagai acuan untuk menentukan berhasil tidaknya seorang siswa dalam belajar” (32). Sedangkan menurut Masrun dan Sri Mulyani Martinah (1983: 12) prestasi belajar adalah
“penilaian atau pengukuran untuk mengetahui apakah bahan atau materi yang disajikan oleh guru telah diserap dengan baik atau sebaliknya sehingga dapat diketahui sejauh mana para siswa dapat menangkap dan mengerti materi yang sedang dipelajarinya” (h. 12).

Kemudian menurut Surya (1983) bahwa prestasi belajar merupakan “seluruh kecakapan yang dicapai melalui proses belajar di sekolah yang dinyatakan dengan nilai-nilai prestasi belajar berdasarkan hasil test prestasi belajar” (h. 115).
Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi siswa adalah perubahan tingkah laku siswa baik pengetahuan, sikap maupun ketrampilan hasil dari aktivitas belajar yang ditetapkan dalam bentuk angka atau nilai. Atau dengan ungkapan lain bahwa prestasi belajar adalah mengukur sejauh mana proses kegiatan belajar mengajar dapat diserap oleh para siswa.
Prestasi belajar siswa secara nyata dapat dilihat dalam bentuk kuantitatif yaitu angka. Prestasi belajar itu dalam periode tertentu diperoleh dengan mendapatkan rapor. Prestasi belajar siswa dalam kenyataannya antara siswa yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Siswa yang belajar baik, tepat dalam menggunakan waktu belajar cenderung mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Sebaliknya, siswa yang kurang tepat cara belajarnya cenderung mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
Keberhasilan belajar seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Masrun (1992) dapat diklasifikasikan sebagai “faktor eksternal dan faktor internal.” (h. 37) Faktor-faktor eksternal adalah yang berasal dari luar diri si pelajar dan ini masih dapat digolongkan menjadi dua golongan dengan catatan bahwa overlapping tetap ada, yaitu: (a) faktor-faktor sosial; dan b) faktor-faktor non sosial. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu: (a) faktor fisiologis; dan (b) faktor psikologis.
  1. Tinjauan tentang Pembelajaran Matematika
Pengertian matematika Menurut Sunardi (1997) dikatakan bahwa matematika adalah “ilmu yang mempelajari seluk beluk bilangan beserta hubungannya.” (h. 1) Sependapat dengan Sunardi, Herman Hudoyo (1998) menjelaskan bahwa matematika “merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas kalau dibandingkan dengan disiplin ilmu lain. Maka pembelajaran matematika seyogyanya tidak disamakan begitu saja dengan ilmu yang lain.” (h. 1) Karena peserta didik yang belajar matematika itupun berbeda-beda pula kemampuannya, oleh karena itu kegiatan belajar mengajar haruslah diatur sekaligus memperhatikan kemampuan yang belajar.
Menurut Lerner yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (2003): mengemukakan bahwa “matematika disamping bahwa simbol juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas”. (h.25).
Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari sifat khas dibandingkan ilmu yang lain yang mempelajari tentang seluk beluk bilangan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan matematika adalah disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas dibanding dengan ilmu yang lain dalam mengekspresikan hubungan kuantitatif yang memudahkan manusia berpikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Tinjauan tentang Media Realia
Secara umum kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar menurut Hamalik (1992) adalah untuk “memperjelas penyajian pesan dan mengatasi verbalisme, keterbatasan ruang waktu dan daya indera.”  Dalam penjelasannya, Hamalik mencontohkan: 1) objek yang terlalu besar dapat diganti dengan model, gambar, realitas. 2) objek yang kecil dibantu dengan Proyektor Mikro, Film atau gambar. 3) gerak yang terlalu cepat atau lambat dapat dibantu dengan Time Lapse atau High Speed Photograft. 4) kejadian masa lalu dapat ditampilkan lewat film, rekaman, video. 5) objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model, diagram atau gambar. 6) konsep yang terlalu luas dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar, film.
Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer dalam Zulkardi, 2010: 7).  Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”.  Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000).  Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.
Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Treffers (dalam Zulkardi, 2010: 6), yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan, dan penvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real ke masalah matematik. Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematik, penggunaan model-model yang berbeda, dan penggeneralisasian.  Kedua jenis matematisasi ini mendapat perhatian seimbang,  karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai sama (Van den Heuvel-Panhuizen, 2000).
Dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (“dunia nyata”), sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung.  Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (dalam Zulkardi, 2010: 5) sebagai matematisasi konseptual.  Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit.  Kemudian, siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization).  Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Bonotto, 2000). Dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana “dunia nyata” tidak hanya sebagai sumber matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka proses dalam pembelajaran matematika realita dapat disajikan ke dalam bagan berikut.
Gambar 1   Konsep Matematisasi De Lange
Sumber: Zulkardi, 2010: 5
KERANGKA PEMIKIRAN
Metode dan strategi pendekatan yang digunakan peneliti untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bangun ruang melalui penggunaan media konkrit. Di dalam pembelajaran menggunakan media kongkrit ini guru menyampaikan materi pembelajaran disertai dengan peragaan berupa alat bantu pelajaran. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan seluruh siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kongkrit dalam pembelajaran matematika sehingga pemahaman semakin meningkat.
Adapun alur kerangka pemikiran yang ditunjukkan untuk mengarahkan jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka kerangka pikir diatas dilukiskan dalam sebuah gambar skema agar peneliti mempunyai gambaran yang jelas dalam melakukan penelitian. Adapun skema itu adalah sebagai berikut:
Gambar 2 Kerangka Pemikiran
HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan landasan teori, kerangka pemikiran maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan kelas sebagai berikut: “penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012”.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 pada kelas V semester II. Alasan pemilihan adalah karena peneliti mengajar di sekolah tersebut sehingga memudahkan dalam pelaksanaan tindakan.
Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan dalam waktu 3 (tiga) bulan yaitu dari persiapan penelitian bulan Pebruari 2012 sampai dengan penyusunan laporan penelitian bulan April 2012.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 48 orang siswa. Penentuan subjek dilandasi adanya alasan bahwa siswa kelas V semester II di SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 mempunyai tingkat ketuntasan belajar yang rendah dalam pembelajaran matematika.
Prosedur Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka jenis penelitian yang paling tepat adalah maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas menurut pendapat Elliott (2001: 1) disebutkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
the process through which teachers collaborate in evaluating their practice jointly; raise awareness of their personal theory; articulate a shared conception of values; try out new strategies to render the values expressed in their practice more consistent with the educational values they espouse; record their work in a form which is readily available to and understandable by other teachers; and thus develop a shared theory of teaching by researching practice” (Elliott, 2001: 1).
Berdasarkan pendapat Elliott, dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan proses di mana guru bekerjasama dalam mengevaluasi pelaksanaan tugas mengajar yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Proses siklus kegiatan dalam penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2006: 65) dapat digambarkan ke dalam bagan skematis sebagai berikut.
Gambar 3. Model Penelitian Tindakan dari Kemmis dan Taggart
Teknik Pengumpulan Data
  1. Observasi
Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung (Sutopo, 2002 : 59) baik secara formal maupun informal untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media realia di kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012, mengamati secara langsung tehadap peristiwa / kegiatan pembelajaran matematika konsep bangun ruang yang meliputi: a) kemampuan guru dalam menjelaskan kompetensi dasar dan indikator dalam pembelajaran, b) kemampuan mengembangkan pendekatan, metode dan media dalam pembelajaran matematika konsep bangun ruang;  c) Penguasaan Kelas; dan d) kemampuan menggunakan alat penilaian.
  1. Tes
Tes yang digunakan dalam pengumpulan data berupa tes hasil belajar matematika. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus tindakan untuk mengumpulkan data mengenai tingkat kompetensi siswa dalam penguasaan konsep bangun ruang.
Validitas Data
Data yang berhasil digali, dikumpulkan dan dicatat dalam kegiatan penelitian, diusahakan kemantapan dan kebenarannya. Agar data dapat dijamin kenbenarannya, didalam penelitian ini digunakan triangulasi data atau disebut sumber data (Sutopo, 2002 : 79). Cara ini mengarah pada penggunaan beragam sumber data yang tersedia. Artinya data yang sama atau sejenis, akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber yang satu, bisa lebih teruji kebenarannya bilamana dibandingkan dengan data yang diperoleh dari sumber lain.  
Teknik Analisis Data
Prosedur analisisnya menggunakan model alur dari Kemmis dan Taggart yang intinya mengidentifikasi perkembangan dan perkembangan dan perubahan subjek setelah subjek sampel diberi perlakuan khusus atau dikondisikan pada situasi tertentu dengan pembelajaran tindakan dalam kurun waktu tertentu dan berulang-ulang sampai program dinyatakan berhasil.
Indikator Kinerja Penelitian
Indikator untuk mengukur keberhasilan tindakan pembelajaran guna peningkatan prestasi belajar matematika adalah sebagai berikut:
  1. Siswa dianggap menguasai konsep apabila sudah memperoleh nilai > KKM untuk mata pelajaran matematika, atau nilai > 64.
  2. Pembelajaran dianggap berhasil apabilai nilai rata-rata kelas > KKM atau rata-rata kelas > 64.
  3. Pembelajaran dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan nilai > 64 sudah mencapai > 80% dari seluruh jumlah siswa yang ada.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
  1. Deskripsi Kondisi Awal
Hasil tes ulangan harian yang diperoleh dari 48 orang siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Surakarta pada semester II tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan bahwa dari 48 siswa ternyata baru 23 orang siswa atau 47,92% yang sudah memperoleh nilai di atas KKM sebesar 64.  Sisanya sebanyak 25 orang siswa atau 52.08% belum mencapai ketuntasan belajar.
Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah sebesar 45 dan nilai tertinggi 80. Nilai rata-rata kelas diperoleh sebesar 61,98. Dengan demikian, secara klasikal siswa kelas V Semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 belum mencapai batas tuntas minimal yang dipersyaratkan dalam pembelajaran matematika.
Data perolehan nilai hasil ulangan harian dapat disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2
Nilai Hasil Belajar Kondisi Awal
No.
Ketuntasan
Jumlah
%
1.
Tuntas
23
47,92 %
2.
Belum Tuntas
25
52,08 %

Jumlah
48
100%
Nilai Rata-rata
61.98




Nilai Terendah
45




Nilai Tertinggi
80




Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal tindakan dapat digambarkan ke dalam diagram batang sebagai berikut:
Gambar 4 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
  1. Deskripsi Tindakan Siklus I
Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan setelah akhir pembelajaran tindakan Siklus I dapat diketahui bahwa pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai terendah yang diperoleh siswa mengalami peningkatan dari 45 pada kondisi awal menjadi 50. Nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 80 pada kondisi awal menjadi sebesar 85 pada akhir tindakan Siklus I.
Nilai rata-rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan dari 61.98 pada kondisi awal meningkat menjadi sebesar 66.88 pada akhir tindakan Siklus I. Atas dasar hal ini maka secara klasikal nilai rata-rata hasil belajar siswa pada tindakan Siklus I sudah melampaui batas tuntas minimal yang ditetapkan, yaitu 66.98 > 64.
Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas minimal dengan nilai 64 adalah sebanyak 31 orang siswa atau 64.58%. Siswa yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 17 orang siswa atau 35.42%. Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat disajikan ke dalam tabel berikut.
Tabel 3
Nilai Hasil Belajar Tindakan Siklus I
No.
Ketuntasan
Jumlah
%
1.
Tuntas
31
64,58 %
2.
Belum Tuntas
17
35,48 %

Jumlah
48
100%
Nilai Rata-rata
66.88




Nilai Terendah
50




Nilai Tertinggi
85




Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat digambarkan ke dalam diagram batang sebagai berikut:
Gambar 5 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Tindakan Siklus I
Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus I dapat diperoleh refleksi hasil tindakan sebagai berikut:
  1. Pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dari 61.98 pada kondisi awal menjadi 66.88 pada akhir tindakan Siklus I.
  2. Nilai rata-rata kelas sudah melampaui KKM yang ditetapkan, yaitu 66.88 > 64, meskipun demikian pembelajaran belum dapat dikatakan berhasil. Hal ini diindikasikan dengan belum tercapainya ketuntasan kelas di mana tingkat ketuntasan belajar siswa < 80% atau 64.52 < 80%.
  3. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus I adalah: (a) belum berubahnya pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran berpusat pada siswa; (b) dampak produk berupa penguasaan kompetensi penuh secara klasikal belum tercapai, yaitu mencapai tingkat ketuntasan kelas sebesar 80%.
  1. Deskripsi Tindakan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan pembelajaran pada Siklus I, terutama yang menyangkut beberapa hal yang direkomendasikan pada Siklus I, selanjutnya disusun rencana tindakan pembelajaran Siklus II. Perencanaan ini merupakan upaya untuk meningkatkan dampak produk dari tindakan pembelajaran yang lebih baik.
Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir tindakan Siklus II, dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil tindakan siklus sebelumnya. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan, yaitu nilai terendah mengalami peningkatan dari 50 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 60 pada akhir tindakan Siklus II.
Nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 85 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 90 pada akhir tindakan Siklus II. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 66.88 pada akhir tindakan Siklus I menjadi 72.29 pada akhir tindakan Siklus II. Mengingat bahwa nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa > KKM atau 72.29 > 64, maka secara klasikal siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta sudah mencapai ketuntasan belajar dalam pembelajaran matematika konsep bangun ruang.
Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas minimal dengan nilai 64 adalah sebanyak 44 orang siswa atau 91,67%, sedangkan yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 4 orang siswa atau 8,33%. Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut:
Tabel 4
Nilai Hasil Belajar Tindakan Siklus II
No.
Ketuntasan
Jumlah
%
1.
Tuntas
44
91,67 %
2.
Belum Tuntas
4
8,33 %

Jumlah
48
100%
Nilai Rata-rata
72.29




Nilai Terendah
60




Nilai Tertinggi
90




Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan pembelajaran Siklus II dapat digambarkan ke dalam diagram sebagai berikut:
Gambar 6 Diagram Batang Data Tingkat Ketuntasan Belajar Tindakan Siklus II
Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus II dapat diperoleh refleksi hasil tindakan sebagai berikut:
  1. Pembelajaran matematika dengan media realia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dibandingkan dengan tindakan siklus sebelumnya,  yaitu dari 66.88 pada akhir tindakan Siklus I meningkat menjadi 72.29 pada akhir tindakan Siklus II.
  2. Pembelajaran matematika dengan media realia dianggap berhasil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Hal ini diindikasikan dengan tercapainya ketuntasan kelas secara klasikal, yaitu dengan tingkat ketuntasan sebesar 91.67%.
  3. Adanya siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar, yaitu sebanyak 4 orang atau 8.33% diberikan perlakuan khusus berupa pembelajaran remedial sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan belajar dengan nilai > 64.
  4. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus I sudah tercapai pada tindakan Siklus II. Hal tersebut meliputi: (a) sudah berubahnya pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran berpusat pada siswa; (b) dampak produk berupa penguasaan kompetensi penuh secara klasikal sudah tercapai, yaitu mencapai tingkat ketuntasan kelas > 80% atau 91.67% > 80%.
Pembahasan
Hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa ” penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.
Pada tindakan Siklus I, hasil yang diperoleh belum optimal. Untuk itu guru melakukan perbaikan dengan mengubah skenario pembelajaran pada tindakan Siklus II dengan model diskusi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Tindakan perbaikan dengan mengubah skenario pembelajaran cukup berhasil. Hal ini diindikasikan dengan tercapainya indikator kinerja penelitian berupa nilai rata-rata kelas > KKM dan tingkat ketuntasan belajar siswa > 80%.
Ditinjau dari nilai hasil belajar yang diperoleh siswa, nilai terendah, tertinggi, maupun nilai rata-rata yang diperoleh siswa dalam pembelajaran matematika mengalami peningkatan pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai terendah hasil belajar matematika yang diperolah siswa pada kondisi awal adalah sebesar 45, nilai tertinggi 80, dan nilai rata-rata sebesar 61.98.
Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I, yaitu dengan  nilai terendah sebesar 50, nilai tertinggi 85, dan nilai rata-rata sebesar 66.88. Pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II, nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan tindakan Siklus I, yaitu dengan nilai terendah sebesar 60, nilai tertinggi 90, dan nilai rata-rata sebesar 72.29.
Tabel 5
Perkembangan Nilai Hasil Belajar Siswa
No.
Nilai
Awal
Siklus I
Siklus II
1.
Rata-rata
45
50
60
2.
Nilai Terendah
80
85
90
3.
Nilai Tertinggi
61.98
66.88
72.29
Peningkatan nilai hasil belajar siswa dari kondisi awal hinga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas selanjutnya dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut:
Gambar 7 Diagram Peningkatan Nilai Hasil Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingg Tindakan Siklus II
Penggunaan media realia dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Zulkardi (2010: 5) yang mengatakan bahwa dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (“dunia nyata”), sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. 
Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (dalam Zulkardi, 2010: 5) sebagai matematisasi konseptual.  Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. 
Kemudian, siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matema-tika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization).  Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Bonotto, 2000). Dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana “dunia nyata” tidak hanya sebagai sumber matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika.
PENUTUP
  1. Simpulan
Setelah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seperti yang tertuang pada bab IV, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: penggunaan media realia efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep bangun ruang pada siswa kelas V semester II SD Negeri Premulung No. 94 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Tahun pelajaran 2011/2012. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.
  1. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka ada beberapa hal yang perlu disarankan, antara lain sebagai berikut:
  1. Bagi Guru Kelas
Suatu metode pembelajaran belum tentu cocok diterapkan untuk semua materi pelajaran. Untuk itu perlu adanya pemilihan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pelajaran atau pokok bahasan yang diajarkan.
  1. Bagi Siswa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penentu keberhasilan dalam belajar adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran. Untuk itu disarankan kepada siswa agar selalu terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Bonotto, Cinzia. 2000. Mathematics in and out of school : is it possible connect these contexts ? Exemplification from an activity in primary schools. http://www.nku.edu/~sheffield/ bonottopbyd.htm  diakses pada 10 Juli 2011.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1994) Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Dimyati Mahmud (1990)  Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Kartikawati, Etty. (1997) Hakekat Bimbingan di SD. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UT.
Hasan Rachjadi (1997) Dasar-dasar Pendidikan. Bandung: P3G.
Herman Hudoyo. (1998)  Belajar Mengajar Matematika. Bandung: CV. Angkasa.
Marika Subrata dan Munzayanah (1992) Remedial Teaching. Surakarta: UNS.
Moh. Suryo dan Moh. Amien (1989) Pengejaran Remedial. Jakarta: Rineka Cipta.
Mulyono Abdurrahman (1996) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
--------. (1999). Pendidikan Bagi Anak berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
--------. (2003) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ngalim Purwanto (1990) Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Program Akta Mengajar V-B. (1985) Komponen Dasar Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UT.
Slameto. 2005. Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Krida. Jakarta: Bumi Aksara.
Sunardi (1997)  Mengenal Siswa Berkesulitan Belajar. Surakarta: UNS.
--------. (2000) Ortopedagogik Umum II Anak Berkesulitan Belajar. Surakarta: UNS.
Van den Heuvel-Panhuizen. 2000. Realistic Mathematics Education Work in Progress. http://www.fi.uu.nl/en/indexpulicaties.html.  diakses pada 10 Juli 2011
Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zulkardi. 2010. “How to Design Mathematics Lessons based on the Realistic Approach?http://www.reocities.com/ratuilma/rme.html diakses pada 10 Juli 2011.

2 komentar: